Selasa, 17 September 2024

Pengangguran Sarjana dan Urgensi Pendidikan Kewirausahaan (16)

 

Pengangguran Sarjana dan Urgensi Pendidikan Kewirausahaan (16)

 


Oleh: TB. Kusai Murroh, S.Pd., S.H., M.H.

Akademisi dan Penasehat Hukum LPPH-BPPKB Banten

Perbincangan terkait persoalan pengangguran sepertinya tidak pernah ada habisnya. Mulai pejabat, politisi, akademisi hingga masyarakat kecil terlibat langsung dalam diskusi tersebut mengingat pengangguran merupakan fenomena sangat serius yang dapat berdampak buruk bagi perekonomian bangsa. Parahnya lagi, pengangguran (tuna karya) ini banyak dialami oleh sarjana muda.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2024 mencapai 7,2 juta orang, dari sebelumnya pada Februari 2023 yang mencapai 7,99 juta orang. Jumlah pengangguran Indonesia pada Februari lalu menjadi yang terendah sejak era reformasi atau 1997, sebesar 4,69 juta. Sejalan dengan jumlah pengangguran di Indonesia yang kembali menurun, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2024 juga menurun menjadi 4,82%, dari sebelumnya pada Februari 2023 yang mencapai 5,45% (Cnbcindonesia.com, 19/7/2024).

Berdasarkan catatan BPS, jumlah penduduk usia kerja per Februari 2024 sebanyak 214 juta orang atau naik 2,41 juta orang dari Februari 2023. Dari situ, jumlah angkatan kerja 149,38 juta atau naik 2,76 juta dan bukan angkatan kerja 64,64 juta atau turun 350 ribu orang. Dari jumlah angkatan kerja itu, BPS mencatat total orang yang bekerja sebanyak 142,18 juta orang atau naik 3,55 juta orang dari Februari 2023. Sedangkan pengangguran turun 790 ribu orang, menjadi 7,2 juta orang pada Februari 2024.  Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN, tingkat pengangguran Indonesia menempati posisi pertama, di mana berdasarkan data dari IMF per April 2024, tingkat pengangguran di RI mencapai 5,2%. Sedangkan di ASEAN, tingkat pengangguran terendah dicatat oleh Thailand yang hanya mencapai 1,1% per April lalu.

Banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menganggur menggambarkan bahwa dunia pendidikan tidak selalu paralel dengan dunia kerja. Anggapan bahwa mereka akan bekerja setelah lulus ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak serta-merta dapat membantu mereka mendapatkan pekerjaan. Kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya tuna karya di kalangan sarjana muda.

Pendidikan Kewirausahaan

Pengangguran merupakan persoalan serius yang mesti segera dicarikan solusinya. Banyak negara di dunia yang menjadikan sektor wirausaha sebagai jalan keluar dari persoalan tersebut. Amerika Serikat, Singapura, Jepang, China, dan Korea Selatan adalah beberapa negara maju di mana kemajuan perekonomiannya ditopang oleh sektor wirausaha. Artinya, negara-negara tersebut memiliki jumlah wirausaha lebih banyak ketimbang negara-negara sedang berkembang.

Hingga saat ini jumlah wirausaha Indonesia baru sekitar 3,74 persen. Jangankan dengan negara maju, di tingkat ASEAN saja Indonesia masih tertinggal. Kita masih di bawah Thailand yang jumlahnya sudah 4,2 persen, Malaysia 4,7 persen, dan Singapura 8,7 persen. Dengan demikian, untuk menjadi negara maju paling tidak kita harus memiliki jumlah wirausaha sekitar 12-14 persen.  

Mencetak wirausaha dalam jumlah banyak memang tidak mudah. Dibutuhkan proses panjang dan kerja keras untuk mengubah mindset generasi muda dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Untuk mengubah mindset tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan kewirausahaan.

Menurut Rachmadyanti dan Wicaksono (2015), pendidikan kewirausahaan perlu dikembangkan sejak dini agar Indonesia dapat mencetak generasi penerus yang siap dengan tantangan-tantangan ekonomi di masa mendatang. Kewirausahaan merupakan alternatif yang cukup efektif untuk mengatasi berbagai problem sosial yang ada, baik problem pengangguran, kemiskinan maupun keterbelakangan sosial lainnya.

Dalam konteks inilah, pendidikan kewirausahaan dapat diberikan di jenjang sekolah dan perguruan tinggi sehingga jiwa entrepreneur tumbuh dan mengakar kuat dalam diri peserta didik. Pendidikan kewirausahaan akan mendorong generasi muda menjadi lebih kreatif, inovatif, kritis, dan mandiri. Selain itu, pendidikan kewirausahaan yang diajarkan di lembaga pendidikan dapat menciptakan peluang dan menumbuhkan kepercayaan sedini mungkin dalam diri generasi muda.

Tentu, keberhasilan pendidikan kewirausahaan ini butuh dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan orang tua. Tanpa kerja sama antarpihak sangat mustahil Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya dalam sektor kewirausahaan.

Pengajaran teori di kelas perlu didukung tenaga pengajar yang benar-benar kompeten di bidangnya sehingga output yang dihasilkan sesuai dengan harapan bersama. Selain itu, teori juga harus diimbangi dengan praktik langsung dengan cara menjalin kerja sama dengan perusahaan atau pelaku usaha yang disesuaikan dengan bidang dan minat masing-masing siswa.

Dengan demikian, pendidikan kewirausahaan perlu diberikan sedini mungkin agar anak-anak tumbuh dengan semangat dan jiwa entrepreneur. Jika ikhtiar ini diberikan secara konsisten, maka mimpi Indonesia menjadi negara maju akan segera terwujud.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ANALISIS YURIDIS HAK KEPERDATAAN

  STUDY KASUS PMH Oleh Tb. Kusai Murroh, S.Pd.,S.H.,M.H 1.    PMH :Posisi Hukum “Penutupan Tempat Usaha Secara Paksa” Dalam praktik pe...