Maulid Nabi; MomentumPenguatan Pendidikan Karakter
Oleh: TB. Kusai Murroh, S.Pd., S.H., M.H.
Akademisi dan Penasehat Hukum LPPH-BPPKB Banten
Alhamdulillah, tahun 2024 ini kita
dipertemukan kembali dengan bulan Rabiul Awwal yang
di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan bulan maulid. Maulid merupakan bulan
yang ditunggu-tunggu kaum muslimin karena dalam bulan ini terjadi sebuah
kejadian yang luar biasa, yaitu kelahiran Nabi Muhammad saw. Beliau adalah sosok
teladan dan paling mulia di muka bumi. Nabi Muhammad
SAW menempati kedudukan nomor satu daftar manusia yang paling berpengaruh
dalam panggung sejarah dunia.Kemasyhuran ini diakui dan juga dinyatakan oleh Michael H. Hart, seorang ahli
astronomi dan ahli sejarah terkenal di Amerika Serikat dalam bukunya "The
100" yang terbit baru-baru Amerika Serikat.
Kehadiran Nabi
Muhammad Saw ke dunia ini membawa sebuah misi penting di antaranya adalah
memperbaiki akhlak manusia. Misi tersebut menunjukkan bahwa akhlak menjadi
bagian penting dalam kehidupan umat manusia. Sebab, akhlak akan menjadi
penerang di tengah kegelapan dan mendatangan kedamaian bagi umat manusia dalam
menjalankan tugasnya sebagai khalifah.
Sudah sepatutnya
kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw untuk mengenang sosok beliau
yang selama ini menjadi teladan yang baik (uswatun
hasanah) bagi seluruh umat manusia. Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum
bagi kita untuk memperkuat karakter atau akhlak di tengah gempuran globalisasi
dan digitalisasi yang sudah masuk ke seluruh lini kehidupan.
Kejujuran Wujud
Revitalisasi Nilai
Saat ini kita hidup di era digital yang
sudah masuk ke semua aspek kehidupan. Satu sisi kehadiran teknologi memang
membawa manfaat, tapi di sisi lain justru berdampak buruk bagi penggunanya,
terutama generasi muda. Dalam konteks ini, Maulid Nabi harus menjadi momentum
bagi kita untuk meneladani akhlak beliau sebagai ikhtiar untuk memperkuat pendidikan
karakter bangsa.
Ulil Amri Syafri (2014) menyatakan bahwa
pendidikan karakter dianggap sebagai pendidikan nilai moralitas manusia yang
didasari dan dilakukan dalam tindakan nyata. Terdapat unsur pembentukan nilai
dan sikap yang didasari pada pengetahuan untuk melakukannya. Nilai ini
merupakan nilai yang dapat membantu interaksi bersama orang lain secara lebih
baik. Nilai ini meliputi berbagai bidang kehidupan, misalnya hubungan vertikal
dengan Tuhan, hubungan sesame manusia, hubungan dengan diri sendiri, hubungan
dengan lingkungan, dan bernegara.
Penguatan pendidikan karakter bagi
generasi muda di era saat ini menjadi sangat penting. Hal ini karena tantangan
dan godaan zaman di tengah perkembangan teknologi digital semakin tak
terkendali. Ancaman degradasi moral generasi muda sudah tampak jelas di depan
kita. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak generasi penerus bangsa sungguh
sangat mengkhawatirkan. Berbagai tindakan kriminal, asusila, dan kurangnya
kepedulian sosial di kalangan generas muda semakin nyata.
Berbagai kejadian
tersebut patut kita jadikan bahan renungan khususnya bagi orang tua agar tetap
istiqamah mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik. Karena itu, Maulid
Nabi Muhammad Saw harus menjadi momentum bagi kita untuk kembali memperkuat
penjagaan pada akhlak generasi penerus.
Sejarah hidup Nabi mencakup segala segi
kemanusiaan. Di samping sebagai seorang utusan (rasul), beliau juga adalah
seorang ayah, suami, dan sahabat. Beliau juga sebagai negarawan dan pilitikus.
Semuanya menunjukkan keteladanan bagi kita sebagai umatnya.
Banyak sikap dan perilaku Nabi yang patut
kita contoh. Salah satunya adalah kejujuran. Akhlak jujur inilah menjadi modal
dasar dakwah Nabi Muhammad Saw. Kejujuran adalah nilai dasar dan utama dalam
ajaran Islam yang saat ini sudah mulai luntur di kalangan umat. Dengan kata
lain, di era kemajuan pengetahuan dan teknologi kejujuran sudah menjadi barang
langka dan sulit kita temukan.
Padahal
kejujuran menjadi kunci penting keberhasilan Nabi dalam memimpin dan berdakwah.
Karena itu, untuk membangun sebuah bangsa kita bukan hanya membutuhkan
kecerdasan melainkan juga kejujuran. Tanpa kejujuran, sebuah bangsa hanya akan
dihuni oleh pejabat-pejabat yang hanya mementingkan diri sendiri dan
kelompoknya. Banyaknya pejabat yang korup menjadi bukti bahwa kejujuran di
negeri ini sudah mulai hilang.
Peringatan
Mulid Nabi bukan hanya ritual tahunan yang hampa makna. Memperingati kelahiran
beliau tidak lain adalah untuk mempelajari dan mencontoh sikap Nabi termasuk
sikap jujur. Karenanya, di tengah semakin langkanya nilai kejujuran di negeri
ini, maka meneladani kejujuran Nabi Muhammad Saw adalah suatu keniscayaan.
Sikap jujur ini perlu kita tanamkan sejak dini kepada generasi muda agar kelak
mereka tumbuh menjadi pemimpin bangsa yang menjunjung tinggi nilai kejujuran
dan integritas.