Ketakwaan Sosial: Kemewahan Indonesia yang Tak Ternilai

Primetime News - Di tengah dinamika sosial dan politik yang terus bergerak, Indonesia menyimpan satu kemewahan yang tak ternilai: kebebasan rakyat untuk beribadah dan bersosialisasi secara damai di tanah air sendiri. Kemewahan ini bukan sekadar hak konstitusional, melainkan wujud nyata dari kebutuhan asasi yang dijaga oleh negara.
TB. Kusai Murroh, akademisi dan praktisi hukum yang juga penulis buku Membangun Indonesia, menyoroti momen-momen spiritual dan sosial sebagai fondasi kekuatan bangsa. Menurutnya, ketakwaan yang lahir dari kebebasan beribadah mampu melahirkan semangat kekeluargaan dan gotong royong yang tulus.
“Ketika rakyat berlomba dalam kebaikan universal tanpa membawa kepentingan politik praktis, di situlah ketulusan menjadi kekuatan,” ujar Kusai. Ia menekankan bahwa nilai-nilai spiritual yang tidak dikomodifikasi adalah sumber energi sosial yang membangun.
Baca Juga:Longsor Tutup Akses Jalan Sukaraja-Cikutri, TNI dan Warga Bergerak Cepat di Langensari Lembang
Dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, terlihat bagaimana masyarakat Indonesia menjadikan ruang publik sebagai tempat bertumbuhnya solidaritas. Dari masjid hingga balai warga, dari gereja hingga lapak komunitas, semangat saling membantu terus menyala.
Tb. Kusai Murroh yang akrab dipanggil Abah Perwira Banten menyebut fenomena ini sebagai “ketakwaan sosial”, sebuah istilah yang merangkum spiritualitas yang berdampak langsung pada kehidupan bersama. Ketakwaan sosial bukan hanya soal ibadah, tapi juga tentang kepedulian, empati, dan aksi nyata membangun lingkungan.
Ia mengajak publik untuk melihat ulang kemewahan ini sebagai aset nasional. “Kita punya modal sosial yang luar biasa. Jangan sampai rusak oleh kepentingan sempit atau narasi yang memecah belah,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan, ketakwaan sosial menjadi jembatan antara nilai-nilai luhur dan kebijakan publik. Ketika masyarakat bergerak atas dasar kebaikan bersama, maka pembangunan tidak lagi bersifat top-down, melainkan partisipatif dan berkelanjutan.
Kusai juga mengingatkan bahwa kemewahan ini harus dijaga dengan kesadaran kolektif. Negara berperan sebagai pelindung, namun masyarakatlah yang menjadi penjaga nilai. “Kita semua punya tanggung jawab untuk merawat ruang sosial yang inklusif dan damai,” katanya.
Ia berharap media dan ruang publik dapat lebih banyak mengangkat narasi ketakwaan sosial sebagai inspirasi. Bukan sekadar berita seremonial, tapi kisah-kisah nyata tentang gotong royong, kepedulian, dan solidaritas lintas iman dan budaya.
Dalam pandangan Abah Kusai, Penulis Buku "membangun Indonesia" bukan hanya soal infrastruktur atau regulasi, tapi juga tentang membangun jiwa bangsa. Ketika ketakwaan sosial menjadi budaya, maka Indonesia akan tumbuh sebagai bangsa yang kuat secara spiritual dan sosial.
Kemewahan Indonesia bukan terletak pada materi, melainkan pada ruang batin dan sosial yang bebas, damai, dan penuh kebaikan. Sebuah kemewahan yang tak bisa dibeli, tapi bisa dirawat bersama.
Dengan semangat membangun dari bawah, Kusai mengajak semua elemen bangsa untuk kembali pada nilai-nilai dasar: ketulusan, kebersamaan, dan keberpihakan pada kebaikan universal. Karena di sanalah letak kemewahan sejati Indonesia.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar