Pilkada 2024 dan Pentingnya Integritas dalam Kepemimpinan
Oleh:
TB. Kusai Murroh, S.Pd., S.H., M.H.
Akademisi dan Penasehat Hukum LPPH-BPPKB Banten
Pendaftaran
calon kepala daerah untuk pemilihan gubernur, bupati dan walikota sudah
selesai. Itu artinya, Pilkada Serentak 2024 akan segera digelar. Pasca
pendaftaran para kandidat langsung tancap gas turun ke lapangan untuk mencari
dukungan dan menawarkan program unggulannya kepada masyarakat pemilih. Ada juga
yang memanfaatkan media sosial sebagai media kampanye dan membangun citra diri.
Kegiatan
tersebut dilakukan tidak lain untuk menaikkan popularitas di kalangan
masyarakat terutama pemilih milenial dan gen Z. Komisi Pemilihan Umum (KPU)
telah menetapkan DPT Pemilu 2024 sebanyak 204.807.222 pemilih. Dari jumlah
tersebut, terdapat sebanyak 66,8 juta pemilih dari generasi milenial dan gen Z
sebanyak 46,8 juta pemilih. Dengan jumlah yang cukup besar tersebut, maka
pemilih dari kalangan milenial dan gen Z memiliki peranan penting dalam gelaran
Pilkada Serentak 2024.
Tentu harapan
masyarakat hampir sama—yaitu terlaksananya Pilkada 2024 yang aman, damai,
demokrastis, mau memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menghasilkan
pemimpin-pemimpin daerah yang berintegritas. Inilah yang menjadi harapan besar
masyarakat di tengah krisis keteladanan akibat luruhnya moral pemimpin. Krisis
moral tampak jelas dari berbagai kasus korupsi yang banyak melibatkan kepala
daerah.
Berdasarkan data Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) ada sebanyak 167 kepala daerah di Indonesia yang terjerat kasus korupsi
sepanjang 2004-2024 yang melibatkan gubernur, walikota/bupati dan wakilnya.
Banyak faktor penyebab seseorang melakukan korupsi seperti adanya kesempatan,
sifat rakus, gaya hidup komsumtif dan sistem yang buruk. Sementara Jack Bologne
mendasari penyebab korupsi dengan teori GONE—Greed + Opportunity + Need +
Expose. Teori ini menyatakan korupsi terjadi karena keserakahan, kesempatan, kebutuhan,
dan pengungkapan.
Integritas
Menyaksikan
sebagian pemimpin di negeri ini yang terjerat korupsi membuat kepercayaan
masyarakat semakin menurun. Rakyat merasa dibohongi dengan berbagai janji saat
kampanye. Kini kepercayaan publik mulai pudar dan sulit dikembalikan. Dalam hal
ini, Susanto (2024) menyatakan, faktor-faktor yang
dapat menurunkan tingkat kepercayaan terhadap para elit politik erat kaitannya
dengan persepsi masyarakat terhadap kebohongan, korupsi, mementingkan diri
sendiri, tidak kompeten, tidak bertanggung jawab, menyalahgunakan kekuasaan,
malas, kurang transparan, dan tidak tegas.
Kepercayaan masyarakat akan muncul ketika pemimpin di
republik ini mampu memenuhi janji-janji politiknya dan tidak korupsi. Inilah
pemimpin berintegritas yang menjadi harapan masyarakat Indonesia. Integritas
adalah bentuk kejujuran yang dipraktikkan secara konkret dalam kehidupan
sehari-hari. Nilai-nilai integritas sangat penting dan harus dimiliki oleh
seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya, sehingga ia benar-benar mampu
mewujudkan program-programnya untuk mensejahterakan rakyat.
Menurut Puji
Raharjo (2024), untuk menerapkan prinsip integritas dalam kepemimpinan, ada
beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, berkata jujur. Pemimpin harus
selalu jujur dalam setiap perkataan dan tindakan. Ini akan membangun kepercayaan
dan respect dari bawahan. Kedua, menepati janji. Seorang pemimpin harus
menepati janji-janji yang dibuatnya. Hal ini menunjukkan komitmen dan tanggung
jawab. Ketiga, tindakan nyata. Setiap ucapan harus diikuti dengan tindakan
nyata. Ini akan memperlihatkan bahwa pemimpin tersebut tidak hanya berbicara,
tetapi juga berbuat. Keempat, menghindari kebohongan. Menghindari segala bentuk
kebohongan, baik dalam hal kecil maupun besar, adalah kunci untuk menjaga
kepercayaan.
Akhirnya, Pilkada
Serentak 2024 harus dijadikan momentum untuk memilih pemimpin yang memiliki
integritas, yaitu pemimpin yang
satunya kata dengan perbuatan, konsisten antara sikap dan tindakan serta tidak
kenal kompromi. Bangsa besar seperti Indonesia sangat membutuhkan sosok
pemimpin yang tegas, bukan pemimpin boneka yang dapat diatur oleh kepentingan
tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar