Fenomena Belajar Agama di Dunia Maya
Oleh:
TB. Kusai Murroh, S.Pd., S.H., M.H.
Akademisi
dan Penasehat Hukum LPPH-BPPKB Banten
Seiring
perkembangan zaman, tatanan kehidupan masyarakat banyak mengalami perubahan
termasuk dalam mencari dan mendapatkan informasi. Kalau dulu masyarakat
mendapatkan informasi secara offline yang relatif sulit karena tidak semua
masyarakat bisa dengan mudah memperolehnya. Namun, perkembangan teknologi telah
memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai informasi yang dibutuhkannya. Berpikir
penomena ini penulis ingin mengutip
pemikiran Bertrand A.W
Russell, seorang matematikawan, ahli logika, dan filsuf Inggris dalam bukunya The History
Westrn Piloshopy( sejarah filsafat barat) yang penulis paraparasa bahwa “Konsep kehidupan dan dunia yang kita
sebut "filosofis" merupakan hasil dari dua faktor: satu, konsep agama dan etika
yang diwariskan; dua , jenis penyelidikan yang dapat disebut
"ilmiah," . Para filsuf berbeda pendapat dalam hal proporsi di mana
kedua faktor ini masuk ke dalam sistem mereka, tetapi kadar kehadiran kedua aspek , dalam tingkat
tertentu, itulah yang menjadi ciri filsafat”. Setelah memahami akar pohon
cabang ranting ilmu dan teknologi dalam kontek kemanfaatan bagi kehidupan
manusia di masa transit menuju alam kekal, maka berpikir kritis menjadi
paradigma baru dalam mempelajari sesuatu. Terlebih belajar dan mempelajari
agama yang syarat dengan Nilai meta fisik.
Sedangkan Alkitab Alquran menjelaskan “… sesungguhnya orang beriman
adalah arang yang mempercai hal-hal yang metafisik/ghoib”. Tentunya segala hal
ghoib yang dijelaskan dalam alquran dan
Hadist.
Kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi semakin memudahkan masyarakat dunia untuk
terhubung satu sama lain tanpa terbatas ruang dan waktu. Berbagai informasi dan
peristiwa yang terjadi di seluruh dunia dalam hitungan detik dapat dinikmati
oleh kita. Masyarakat juga bisa dengan mudah memanfaatkan perkembangan
teknologi untuk keperluan belajar online, berbelanja di berbagai marketplace
dan mencari berita sesuai kebutuhan. Bahkan, masyarakat bisa belajar agama
secara online. Bagaimana tidak, sambil rebahan di rumah kita bisa belajar agama
dari berbagai pemuka agama seperti kiai, ustadz, dan masyaikh dari berbagai
belahan dunia.
Dalam pandangan
Syamsurijal (2021) belajar agama saat ini memang telah berubah. Dari
yang tadinya pesantren, masjid dan kiai sebagai sentrumnya berganti menjadi gawai
dan ponsel sebagai pusatnya. Generasi Milenial dan generasi Z telah menjadikan
internet sebagai tempat menimba ilmu-ilmu agama.
Kalau dulu
ingin mengikuti kajian atau mejelis taklim seseorang harus berjalan kaki dengan
menempuh jarak yang begitu jauh, tetapi saat ini upaya tersebut sudah tidak
berlaku lagi karena kita dapat mendengarkan berbagai kajian lewat online. Di
berbagai platform digital kita bisa mengakses berbagai kajian keagamaan, mulai dari
tafsir, hadits, fikih, ushul fiqih, tasawuf, nahwu, balaghah dan lain-lain.
Tidak hanya itu saja, kita bebas memilih penceramah atau da’i sesuai keinginan
kita masing-masing. Semua itu bisa kita dapatkan dengan mudah, di mana pun dan
kapan pun kita membutuhkannya.
Tetap Waspada
Belajar agama melalui platform digital tentu boleh-boleh
saja asal dilakukan dengan bijak. Sebab, kemudahan mempelajari ilmu agama
melalui media digital tidak hanya menjadi berkah, tetapi bisa juga menjadi
musibah. Menjadi berkah apabila narasumber atau penceramahnya merupakan orang
yang pakar di bidangnya; Masyhur dikenal
Keilmuannya dan metode serta ciri khas philosofisya . Artinya, kita harus
selektif dan tidak sembarangan memilih kajian di media online. Mempelajari
agama di dunia maya akan menjadi musibah besar jika narasumbernya adalah orang
yang tidak kompeten dan tidak memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Orang yang tepat dan layak untuk menyampaikan kajian
adalah orang yang betul-betul memiliki sanad keilmuan terkait ilmu yang ia
kaji. Dengan kata lain, ilmunya benar-benar tersambung kepada Rasulullah. Agar
ilmu tersebut tersambung sanadnya kepada Rasulullah, maka seseorang harus
belajar agama dengan bimbingan guru yang ahli di bidangnya, gurunya punya guru,
guru dari gurunya memiliki guru, dan begitu seterusnya sampai bersambung kepada
Nabi Muhammad Saw.
Berkaitan dengan pentingnya sanad ini, Imam Nawawi
berkata; mengajilah
(belajarlah) dengan bersungguh-sungguh kepada orang yang benar-benar berilmu
sebelum kamu bertemu dengan masanya orang yang berbicara ilmu yang hanya
bermodalkan prasangka tanpa sandaran yang jelas.
Kemajuan teknologi memang memberikan beragam manfaat bagi
manusia, tetapi belajar agama di
dunia maya bukanlah cara yang bijak, apalagi pengisi kajiannya adalah orang
yang tidak memiliki keahlian di bidang ilmu agama. Meskipun kita terpaksa
belajar agama di dunia maya karena berbagai kesibukan, maka pilihlah kiai atau
ustadz yang benar-benar ahli dan jelas sanad keilmuannya. Jangan sembarangan
mengikuti kajian di ruang digital karena itu akan sangat merugikan kita.
Belajar agama
tidak sama dengan kita mempelajari otomotif yang dapat kita pelajari otodidak
dengan hanya menonton tutorial di kanal Youtube. Belajar agama tidak seperti
keilmuan teknis. Belajar agama membutuhkan sosok guru yang keilmuannya sudah
kredibel dan diakui masyarakat luas. Saya rasa ini harus menjadi kewaspadaan bagi
seluruh pengguna media sosial agar tidak mudah mengakses konten-konten
keislaman yang bertebaran di dunia maya.
Menurut
Ishomuddin (2020) para pemuda yang mulai gandrung beragama itu harus berendah
hati untuk ihtiram
al-ulama (memuliakan ulama) dan berbaik sangka kepada mereka.
Lebih-lebih kepada para ulama yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu agama
tertentu, karena setiap bidang ilmu agama sudah pasti ada ahlinya. Maka
belajarlah agama kepada ahlinya, jangan sembarangan memilih guru untuk
mendalami agama. Tidak setiap penceramah itu pasti paham agama dan tidak setiap
orang yang paham agama mau ceramah.
Apa pun bisa
kita temukan dengan mudah di berbagai media sosial termasuk kajian dan
referensi keagamaan. Tetapi kita tak boleh menganggap media digital sebagai
satu-satunya media untuk menggali pemahaman agama. Silahkan belajar dan mencari
rujukan di dunia maya, tapi untuk memastikan kebenarannya kita harus bertanya
kepada ahlinya, yaitu kiai atau ustadz yang memang kompeten di bidangnya.
Jangan sampai kita menelan mentah-mentah berbagai materi keagamaan yang tersebar
di media online. Gunakanlah kemajuan teknologi
digital dengan sebijak mungkin sehingga keberadaannya benar-benar mendatangkan
berkah, bukan musibah. Penulis berpandangan
setiap narasumber apakah Subyek
itu disebut Keahlian ilmu Agama (KIAI) maupun
Guru tentu punya ciri filsafat/konstruksi berpikirnya sebagai
keunikan. Sehingga hal ini yang menjadi
indikator dari waspada dalam memilih nara sumber dan materi ajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar